Pengalaman Romo Deny di Jepang PDF Print E-mail
User Rating: / 4
PoorBest 
Wednesday, 25 August 2010 02:36

Untuk lebih mengetahui pengalaman pengalaman panggilan, maka saya dengan seijin romo Denny, alamat situsnya : http://acdw74.multiply.com/, yang sekarang bertugas di Jepang memberikan pengalamannya di situs ini.  Mungkin saja dari antara pembaca yang merasakan panggilan untuk menjadi imam ingin mengetahui bagaimana kehidupan salah satu romo yaitu pastur Denny yang penuh tantangan tetapi membahagiakan. 

Setelah sekolah 4 tahun di STF Driyarka (1998 - 2002), ia harus sekolah lagi di


• Chicago, USA untuk belajar Teologi selama 5 tahun.
• Ancona, Italia untuk belajar Bahasa Italia selama 10 bulan.
• Shimasaki, Kumamoto, Jepang untuk belajar bahasa Jepang yang masih belum selesai.

Jadi dalam 7 tahun ini, ia harus belajar 3 bahasa, Inggris, Italia dan Jepang - capek deh.  Namun, mungkin saya  bisa bilang, "Itu bukan hanya tugas, tetapi sebuah petualangan".  Selamat berkarya.  Walaupun saya sendiri pernah tinggal di Jepang selama 1,5 bulan untuk belajar bahasa jepang dalam pertukaran pelajar namun sekarang yang masih tertinggal hanya kata kata wakarimasu / wakarimasen.

 

PENGALAMAN MISIKU DI JEPANG
(14 bulan di Jepang, by P. Alexander Denny Wahyudi, s.x.)
 
Pengalaman yang telah terjadi memang layak untuk direfleksikan dalam terang iman terlebih pengalaman di tempat dan tanah misi yang baru saja aku jalani sebagai imam Xaverian muda di Jepang ini. Hari-hari indah penuh kenangan manis terekam dalam foto-foto yang sempat aku abadikan namun pengalaman indah yang tak terlukiskan dalam gambar pun dapat aku rekam dalam tulisan lalu aku bagikan dalam bentuk tulisan seperti ini. Bukan untuk diriku sendiri namun untuk sesama yang membaca dan mendengarkan kisah ini. “Happiness is not fulfilled if it is not shared” (Kebahagiaan tidak lengkap kalau belum dibagikan). Seperti biasa aku rangkum tulisanku ini dalam tiga bagian yaitu
 
• Pengalaman Studi (Bahasa Jepang),
• Pengalaman Pastoral dan
• Pengalaman Komunitas bersama Serikat Xaverian.

Pengalaman Studi (Bahasa Jepang).
Sejak pertengahan April 2009 setelah satu semester menjalankan studi bahasa Jepang di sekolah “privat” YWCA Kumamoto, akhirnya saya diperkenankan untuk melanjutkan studi bahasa Jepang di satu sekolah yang lebih menantang namun menarik yaitu YMCA Kumamoto. Dengan lika-liku perjuanganku untuk dapat masuk di sekolah baru ini dan bekal yang telah kuterima dari sekolah sebelumnya, aku siap untuk lebih giat dalam komitmen studi di sekolah yang menuntut ekstra waktu, tenaga dan pikiran tentunya.

Di YMCA ini seminggu dari hari Senin sampai dengan Jumat saya selalu menghadiri kelas dari jam 9.20 \x{2013} 14.05. Dalam satu semester terhitung ada 400 jam pelajaran (1 jam pelajaran=45 menit) di sekolah yang harus dihadiri tiap siswa, minimal presentasi kehadiran adalah 90 persen. Syukurlah saya dapat mengikuti 100 persen jadi di akhir semester saya pun mendapatkan penghargaan bersama sekitar 25 teman lain yang selalu setia hadir di kelas dalam satu semester terakhir ini. Tiap hari selalu ada tes kosa kata baru, Kanji atau pun bentuk kata kerja bahasa Jepang yang banyak ragamnya, selain PR harian yang selalu diperiksa tiap hari oleh guru di kelas. Setiap pekerjaan baik tes dan PR selalu terekam dalam laporan guru di kelas.

Ini yang membuat saya untuk terus giat dan tepat waktu dalam mengerjakannya. Nampaknya sangat serius sistem di sekolah ini namun bagi saya secara pribadi sangat cocok karena sistem studi di Indonesia dulu pun baik dari SD hingga kuliah di STF Driyarkara Jakarta selalu dalam sistem penilaian dan sistem penghafalan serta tes yang berkala secara tertulis. Maka, sebagai pelajar saya pun kembali ke ritme seperti dulu seperti saat studi di Indonesia. Kendati sudah berusia 34 tahun (paling tua di sekolah dibandingkan dengan semua teman lain yang bekisar awal 20-an dan 99 persen dari daratan Cina), saya tetap bersemangat dalam studi ini. Bagaimana tidak, setiap pagi saya harus bangun pagi sekitar jam 5 lalu melayani misa di susteran FMM atau susteran Theresia dari Kanak-kanak Yesus sekitar jam 6 atau jam 6.30, lalu pergi ke sekolah dengan bersepeda, dari gereja Shimasaki tempat aku tinggal sekitar 8 km ke YMCA Obiyama yang kutempuh sekitar 23 menit.

Selesai pelajaran di sekolah pun saya harus mengerjakan PR dan menghafalkan tes harian untuk keesokan harinya. Sungguh pengalaman yang membuatku selalu hidup dan giat menggunakan memori otakku. Di kelas “beginner” A saya bersama 11 teman lain yang mayoritas berasal dari Cina dan satu teman laki-laki dari Srilanka (26 tahun) belajar bersama. Ada dua kelas lain yaitu “beginner B dan C” dengan jumlah murid sekitar 11 orang. Di akhir semester pun ada sekitar 6 teman yang harus mengulang kelas alias tidak naik kelas karena prestasinya memang kurang dan mereka adalah temanku dari Srilanka dan sisanya dari Cina. Aku cukup bangga dengan apa yang telah aku raih sampai dengan sekarang meski tidak sempurna namun di akhir semester aku mendapatkan penghargaan “excellent” (優秀=dibaca “yuushuu”) bersama 5 teman lain di tingkat “beginner”. Ada dua teman di level yang sama juga mendapatkan predikat “the most excellent” (最優秀= dibaca “saiyuushuu”) karena semua 6 macam nilai mendapatkan A, sedangkan saya hanya satu nilai yaitu tes pendengaran dan pemahaman mendapatkan B, maka mendapatkan predikat kedua yaitu “excellent”.

Dengan sistem penilain dan kompetisi ini membuat saya setidaknya sadar bahwa dalam suasana studi bersama di sekolah resmi perlu adanya iklim persaingan yang sehat dan penghargaan di akhir semester sehingga membuat para siswa pun giat menekuninya. Ini yang menjadi idaman dan cita-citaku sejak awal namun baru terpenuhi sejak satu semester terakhir ini di sekolah YMCA ini. Sekolah bahasa Jepangku sebelumnya di YWCA Kumamoto memiliki sistem yang sangat berbeda dengan sekolah YMCA ini, selain tidak ada ujian resmi dan penilaian tertulis dari guru juga tidak memiliki banyak teman studi bersama. Secara akal sehat sekolah yang lebih bermutu seperti YMCA ini menjadi pilihan yang utama bagi mereka yang serius mau maju dan berkembang dalam studi bahasa Jepang yang terkenal sulit ini. Selain itu acara budaya seperti acara minum teh dan mengenakan kimono ala Jepang menjadi kegiatan kami di akhir satu semester ini. Kegiatan lain yaitu bersama anak-anak SD Jepang kelas 1-3 bermain bersama di sekolah.


            Dua minggu terakhir dalam semester ini kami semua secara pribadi harus menuliskan sebuah tulisan yang digunakan untuk lomba pidato bahasa Jepang di sekolah. Sebelum dilombakan, guru di kelas mengoreksi karangan kami lalu kami berlatih tiap hari di kelas dan harus dihafalkan. Saat dilombakan saya mendapatkan juara pertama dalam level “beginner” (34 peserta). Isi pidato yang saya latih setiap hari ini dan akhirnya aku hafal dengan baik adalah pengalaman “ajaib” yaitu saat TK saya memiliki teman baik orang Jepang maupun Italia dan saat setelah dewasa saya memiliki kesempatan tinggal di Italia selama 10 bulan dan sekarang di Jepang sudah setahun ini. Lalu aku lanjutkan pengalamanku pertama memimpin misa bahasa Jepang bersama umat. Saat dilombakan bersama level lain (kami semua berjumlah 13 kontestan), meskipun saya tidak menang namun ada dua pemirsa yang datang kepada saya dan berkata bahwa mereka adalah Katolik namun sudah lama tidak datang ke gereja. Mereka adalah satu guru bahasa Jepang di YMCA sekolahku yang mengajar di level “advance” dan satu volunteer untuk percakapan di sekolah. Jadi intinya “speech” ku ini mengundang perhatian mereka yang beragama Katolik dan menyikap jati diriku di hadapan umum. Suatu penuturan dan kesaksian hidup tersendiri yang di luar dugaanku sendiri. Sempat pula kontes final yang diadakan di perpustakaan kota Kumamoto ini, ditayangkan di berita TV dan kata orang-orang yang menontonnya, melihat saya sedang bergaya dalam pidato itu. Yang pasti saat lomba itu saya mengenakan batik coklat ala Indonesia dan memperkenalkan diri sebagai orang Indonesia.

            Perjalanan studi bahasa Jepangku di YMCA masih panjang karena kalau memang benar-benar saya dapat mengikuti studi dengan baik hingga level paling atas yaitu level “advance 2”, saya harus mencurahkan segala tenaga, hati dan pikiranku 1,5 tahun ke depan alias 3 semester lagi. Ini adalah hal yang wajar dan minimal bagi kami misionaris baru yang sedang studi bahasa dan budaya Jepang. Lebih baik memeras otak dan tenaga di awal daripada setelah dua tahun harus bersusah payah mengejar ketinggalan yang seharusnya sudah dipelajari dan dikuasai selama dua tahun pertama di sekolah. Saya memiliki keyakinan pribadi dan antusiasme yang sampai dengan sekarang tidak kunjung padam bahwa saya dapat menjalankannya hingga akhir dan target yang ada adalah aku dapat lulus dari sekolah ini sekitar Maret 2011 lalu siap untuk ditugaskan sebagai pastor pembantu di salah satu paroki di Jepang ini. Meski nantinya saya dapat menyelesaikan studi selama 2 tahun di sekolah, namun status inisiasi saya sebagai imam Xaverian di Jepang masih terus berlanjut karena 5 tahun pertama secara teori saya harus belajar banyak hal terlebih urusan pastoral di gereja Katolik di mana nanti saya bertugas.

Baru setelah selesai inisiasi 5 tahun pertama di Jepang ini saya kalau benar-benar bisa mampun mandiri dalam bahasa Jepang dan kapasitas lain, barulah dilepas dan diperkenankan untuk menangani salah satu paroki di Jepang. Maka perjuanganku masih panjang, saya baru saja memulai dan setiap hari harus saya tekuni dengan penuh semangat.

Maka tepatlah apa yang menjadi hafalanku saat aku di Chicago dulu yaitu “The me I see is the me I’ll be, If I cannot see it I will not be it, Until I believe it I will never achieve it.” Intinya bahwa masa depanku yang indah saat ini sudah aku cita-citakan sejak sekarang maka dengan segala daya upaya aku pun suatu saat bisa mencapai target yang sekarang masih menjadi impian ini. Saat ini pun saya percaya bahwa saya mampu maka saya pun menjalani hari-hari perjuangan ini dengan hati yang lapang. Memasuki level “intermediate” diawali dengan pembukaan tahun ajaran baru yaitu 15 Oktober nanti, di mana guru di sekolah memintaku untuk menyampaikan pidato dalam bahasa Inggris. Berdasarkan pengalaman nyataku di YMCA aku telah menuliskan dan menyerahkan pidato itu kepada guruku. Di bagian akhir aku menuliskan satu kalimat (pribahasa) bahasa Jepang yang artinya adalah “anggur putih kalau dicampur dengan anggur merah, anggurnya akan menjadi merah” (白いワインに赤いワインを入れると、ワインは赤くなってしまいます= dibaca “shiroi wain ni akai wain wo ireruto, wain ha akakunatte shimaimasu”). Peribahasa ini sungguh menjadi nyata dalam pengalaman studiku di YMCA yaitu bersama dengan banyak teman di sekolah yang berusia awal 20-an tahun saya meskipun berusia 34 tahun menjadi muda kembali dan dengan sistem studi di YMCA yang sangat bagus ini membuatku semakin antusias dalam studi.

            Selain belajar bahasa Jepang di sekolah YMCA, saya juga belajar sekali seminggu yaitu tiap hari Selasa datang ke biara FMM Shimasaki dekat tempat saya tinggal di gereja Shimasaki Kumamoto ini, untuk belajar selama 2-2,5 jam yaitu doa brevir bahasa Jepang serta doa-doa dalam misa harian. Suster Nishioka, FMM (77 tahun) asal Kobe dengan senang hati membantuku dalam studi pribadi ini terutama cara membaca tulisan Kanji yang belum saya kenal. Tiap Sabtu saya pun juga dengan insiatif pribadi berlatih bicara bahasa Jepang bersama satu volunteer di YMCA Kamitori dekat pusat kota. Hal yang bagus adalah volunteer ini gratis maka saya pun memanfaatkannya dengan baik. Pihak YMCA Kamitorilah yang membantuku untuk mendapatkan volunteer untuk percakapan bahasa Jepang selama 1- 1,5 jam. Selain latihan percakapan bahasa Jepang di YMCA Kumatori tiap Sabtu, di YMCA Obiyama tempat bersekolahku pun menyediakan volunteer untuk percakapan bahasa Jepang. Saya pun mendapatkan dua volunteer yaitu satu kakek berusia 85 tahun dan satu wanita yang telah bekerja berusia sekitar 24 tahun.

Pengalaman Pastoral
            Sesungguhnya statusku sekarang ini masih sebagai pelajar bahasa Jepang karena baru memasuki tahun kedua tinggal di Jepang. Namun karena secara pribadi saya sudah belajar sejak tahun lalu bagaimana membaca tulisan Jepang khususnya dalam memimpin misa dan juga doa-doa bahasa Jepang seperti Rosario, maka saya pun setelah 9 bulan tinggal di Jepang diberikan kepercayaan untuk memimpin misa bahasa Jepang bersama umat. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan karena justru satu pastor Jepang di pusat kota Kumamoto yaitu Gereja Tetori yang bernama Pastor Makiyama yang kali pertama memberikan kesempatan kepadaku untuk memimpin misa bahasa Jepang di gereja Katolik paling besar di Kumamoto ini. Kisah ini pun menjadi bahan pidatoku saat lomba “speech contest” di YMCA. Sambil menirukan suara pastor Jepang yang bertanya padaku apakah aku mampu memimpin misa bahasa Jepang, aku membawakan pidato bahasa Jepang itu dan umat pun tertawa menyimaknya. Setelah itu sejak Juli 2009 ini setiap bulan saya diperkenankan untuk memimpin misa Internasional yaitu hari Minggu pertama setiap bulan misa pukul 11.30 di Gereja Tetori, Kumamoto, persis di depan Tsuruya, pusat perbelanjaan terbesar di pusat kota ini. Meskipun misanya berjudul internasional namun misa saya bawakan dalam bahasa Jepang, lalu bacaan Injil dan khotbah serta beberapa lagu dan doa permohonan dalam dua bahasa yaitu Jepang dan Inggris. Umat dari Philipina yang sudah lama tinggal di Jepang pun ikut merayakan bersama dalam misa internasional ini. Umat yang datang dalam misa ini berjumlah sekitar 150-200 orang. Sangat sedikit dibandingkan dengan misa di Indonesia pada umumnya yang dipenuhi dengan umat sampai di luar gedung gereja. Secara kuantitas memang umat Katolik Jepang sedikit dan mereka mayoritas adalah ibu-ibu lansia. Maka cara berpastoral pun juga sangat berbeda dengan model gereja di Indonesia. Karena umat di sini kebanyakan lansia maka untuk kegiatan-kegiatan ekstra di luar misa masih sangat minim. Ada beberapa kelompok doa seperti legio Maria atau karismatik di gereja Tetori namun masih terbatas sekali mengingat pesertanya adalah ibu-ibu lansia. Sangat jarang saya menemukan anak muda Jepang yang aktif di gereja. Menjadi PR bagi saya di masa mendatang saat saya benar-benar bertugas sebagai pastor di satu gereja untuk menghidupkan kegiatan bersama umat.
 
Sejak awal tinggal di Kumamoto saya sudah diberi tugas untuk memimpi misa bulanan dalam bahasa Inggris di Gereja Musashigaoka, Kumamoto yaitu hari Minggu ketiga dalam bulan pukul 14.00. Yang hadir umumnya adalah orang Philipina dan beberapa orang Jepang, sekitar 35 orang. Hari Minggu keempat saya diberi tugas memimpin misa bahasa Jepang di Gereja Tamana, 30 km dari Kumamoto. Biasanya saya pergi ke Tamana sendiri dengan membawa sepeda lipat saya dan naik kereta api selama 25 menit. Menginap semalam di gereja Tamana dan Minggu pagi jam 9 saya merayakan misa bersama umat yang berjumlah sekitar 30-35 orang. Setelah selesai misa bersama dengan umat saya ikut minum teh dan menyantap makan siang yang mereka siapkan. Sungguh pengalaman penuh keakraban dan waktu yang ideal buat saya pribadi dapat berbincang-bincang dalam bahasa Jepang dengan mereka yang kebanyakan ibu-ibu lansia ini. Dari hari Senin sampai dengan Sabtu setiap pagi saya memimpin misa di Susteran Theresia dari Kanak-kanak Yesus (Shin Ai). Di kapel Susteran ini saya biasa tiba sekitar jam 5.40 pagi lalu bersama para suster berdoa brevir bahasa Jepang. Lalu dilanjutkan dengan misa bahasa Jepang. Sarapan pagi pun saya turut diundang bersama para suster ini di ruang makan mereka. Ada sekitar 21 orang suster yang mayoritas masih berkarya baik di rumah sakit (Mikokoro Byouin) maupun di sekolah Shin Ai. Di kapel sekolah Shin Ai (SMP dan SMA khusus puteri) pun setiap bulan saya diminta mempersembahkan misa bersama guru dan suster yang berkarya di sekolah itu. Meski yang hadir sedikit yaitu sekitar 8 orang namun selalu saya melayani dengan penuh semangat. Selesai misa pun selalu Suster Kyoko Matsuo mengajak saya makan siang di satu depot baik makanan ala Jepang maupun ala Italia dan kadang-kadang makan bersama suster lain di biara mereka. Dalam misa di beberapa tempat baik di susteran maupun di gereja saya menggunakan bahan “speech” yang sudah saya dapat dari YMCA itu untuk perkenalan diri. Umat dan para suster pun antusias mendengarkannya. Ini yang membuatku terpacu dan percaya diri, untuk terus giat dan maju dalam menekuni bahasa Jepang ini khususnya dalam kemampuan berbicara secara lisan tanpa membaca.
 
Pengalaman pastoralku masih sebatas memimpin misa dan beramah-tamah bersama umat jadi belum banyak hal yang bisa aku sharingkan di sini. Namun saya percaya bahwa dengan kehadiran dan semangat harianku untuk melayani misa dan berdoa bersama dengan mereka, sudah menjadi kesaksian dan pastoralku yang bisa aku persembahkan secara nyata. Dengan keterbatasan kemampuan bahasa Jepangku sekarang ini dengan level yang baru akan naik ke level “intermediate” saya sudah bisa dan dipercaya untuk memimpin misa bahasa Jepang dan tulisan Jepang, merupakan suatu prestasi tersendiri. Maka sering kali saya mendapatkan pujian baik dari umat maupun dari para suster. Semoga hal ini tidak meninabobokkan saya namun terus memberikan kekuatan bagi saya untuk terus giat meningkatkan kemampuan berbahasa saya. Bukan sekedar kemampuan verbal berbahasa Jepang secara akademis namun terlebih bahasa “KASIH” yang menjadi misi utama saya di Jepang ini.
Hidup Komunitas Bersama Xaverian


Saya dapat datang dan tinggal di Jepang karena saya adalah anggota dari Serikat Xaverian. Tarekat religius dan imam misionaris yang menjadi pilihan saya sejak saya berusia 21 tahun. Saya masuk tarekat ini di Jakarta Agustus 1996 setelah bekerja selama 3 tahun di Jakarta. Setamat SMA dari Madiun tahun 1993, saya pergi ke Jakarta dan bekerja di dua tempat yang berbeda yaitu selama 5 bulan di Adorama Photo di Jalan Kemang Raya Jakarta Selatan lalu selama 2,5 tahun di P.T. Surya Pertiwi (TOTO, perusahaan saniter dan perlatan kamar mandi) di Jalan Tomang Raya 16 Jakarta Barat. Pendidikan novisiat selama dua tahun di Bintaro Jakarta saya jalani dengan penuh perjuangan dan 4 tahun studi filsafat di STF Driyarka Jakarta Pusat (1998-2002) berjalan terasa sangat cepat. Selama 5 tahun saya diutus untuk melanjutkan studi teologi di Chicago, Amerika Serikat. Tahbisan imamat saya terima dari Kardinal Darmaatmadja di gereja Santo Mateus Bintaro 15 Agustus 2007. Selanjutnya saya diutus belajar bahasa Italia di novisiat SX di Ancona selama 10 bulan. Tepat hari Minggu 3 Agustus 2008 saya mendarat di Jepang dan sampai dengan sekarang masih terus menekuni hidup dan kehidupan di pulau bagian selatan Jepang ini yaitu Kyushu.
 
Sudah selama setahun ini saya tinggal di satu paroki di Shimasaki, Kumamoto bersama satu pastor kepala paroki, Danilo asal Italia dan satu teman sekelas studi bahasa Jepang yaitu Felipe asal Mexico. Kami bertiga tinggal di satu atap yang sama. Setelah setahun di Jepang kami diberi kepercayaan untuk memimpin misa bahasa Jepang di beberapa tempat berbeda baik hari Minggu mapun hari biasa. Setiap hari Kamis secara khusus kami mengadakan misa komuniter intern kami para imam Xaverian di kapel kecil Shimasaki. Turut bergabung bersama kami satu pastor SX muda yang bertugas sebagai kepala paroki di Musashigaoka yaitu Renato.

Tiap bulan kami juga mengadakan retret bersama diantara kami sendiri termasuk komunitas SX di Shinmeizan, pusat doa dan dialog antar agama (Pastor Franco Sottocornolla dan Pastor Daniele asal Italia). Di wilayah Kyushu SX memiliki rumah tinggal di kota Miyazaki. Tiap bulan ada satu pertemuan komunitas di rumah Miyazaki ini. Namun karena saya terikat selama dua tahun ini dengan jadwal ketat sekolah bahasa Jepang YMCA Kumamoto maka saya untuk sementara tidak dapat menghadiri pertemuan komunitas bersama para Xaverian lainnya. Namun saat libur sekolah saya menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa pastor Xaverian di kota-kota lain di Pulau Kyushu ini. Ada wilayah lain yaitu Osaka dimana SX juga berkarya. Kami semua saat ini berjumlah 34 imam Xaverian yang berkarya di Jepang. Mayoritas berasal dari Italia maka bahasa Italia menjadi bahasa komunitas kami baik dalam pertemuan maupun dokumen internal Xaverian. Selain Italia juga ada yang berasal dari Spanyol (2 orang), Brasil (1 orang), Mexico (1 orang) dan saya sendiri perwakilan dari Xaverian Indonesia. 10-12 November yang akan datang kami memiliki hajat paling besar sebagai propinsi SX di Jepang yaitu kapitel propinsi (tiap 4 tahun sekali) untuk memilih pimpinan propinsi baru. Maka kami semua harus hadir. Saya sendiri yang pasti ingin sekali hadir tapi mengingat jadwal sekolah saya yang belum jelas apakah di hari kapitel itu di kelas saya ada ujian atau tidak, guru di sekolah pun sekarang belum tahu jadwalnya maka saya berharap yang terbaik terjadi buat saya. Kalau memang pas hari tes rutin maka saya pun harus ikut tes itu meningat peraturan sekolah yang memang sangat ketat. Sekali tidak ikut tes periodik di sekolah berarti harus mengulang satu semester yang sama, demikian peraturan di sekolah YMCA ini.
 
            Akhir kata, saya baru saja memulai misi saya di Jepang ini namun hari-hari penuh rahmat terasa begitu cepat berjalan. Telah lewat satu tahun saya hidup di Jepang ini. Semuanya adalah rahmat yang terus saya syukuri berkat kebaikan Tuhan melalui Gereja Katolik Jepang dan Serikat Xaverian saya mampu merasakan buah-buah kasih yang terus mengalir dalam hari-hari penuh dinamika baik dalam budaya Jepang maupun Italia serta jati diri saya sebagai orang Indonesia asal Madiun, yang masih nampak sebagai keturunan Cina yang tidak berbahasa Cina namun fasih berbahasa Jawa ngoko sebagai bahasa ibu. Menemukan jati diri dan tetap bertahan di dunia yang multi budaya ini sungguh suatu tantangan tersendiri bagi saya namun di situlah seninya hidup sebagai misionaris di tengah pluralitas dan selalu menjalani proses penyesuain diri dengan apa yang ada di sekitar saya. Syukurlah saya mampu dan senang menjadi “petualang” dalam misi yang dipercayakan pada saya, bukan misi saya pribadi namun misi Gereja Katolik untuk umat Jepang dan umat lain yang membutuhkan. Maka semoga tulisan ini menjadikan kebahagiaanku terasa lengkap karena sudah aku tulis dan ketikkan dari isi hati dan pikiranku lalu aku bagikan buat Anda sekalian yang membacanya. “Happiness is now fulfilled because it is shared”.

Shimasaki Catholic Church,
Kumamoto, Monday, September 28, 2009
P. Alexander Denny Wahyudi, S.X.

 

Last Updated on Monday, 13 September 2010 13:01